Pemanfaatan Sel Mamalia untuk Penemuan Obat pada Terapi Terarah (Targeted Therapy)


Pemanfaatan sel mamalia dalam bidang bioteknologi telah berkembang dengan pesat. Kultur sel mamalia yang digunakan saat ini, baik kultur sel primer, kultur sekunder maupun lini sel sangat beragam jenis dan jumlahnya. Pemanfaatan kultur sel mamalia sangat luas, di antaranya meliputi studi mekanisme penyakit pada aras molekuler, penelusuran mekanisme aksi obat, ekspresi dan produksi protein rekombinan dan antibodi monoklonal serta penentuan regimen terapi yang tepat bagi pasien di rumah sakit.

Di dalam bidang farmasi, khususnya dalam penemuan obat, peran kultur sel mamalia sangatlah penting. Sel mamalia banyak digunakan untuk pengembangan teknik-teknik pengujian secara in vitro.

Continue reading

Lowongan Pemagangan Riset (2013) telah ditutup


Selamat untuk Larasati, M.Sc., Apt. yang telah diterima sebagai asisten peneliti di Laboratorium Terapetik Protein dan Vaksin, Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI.

________________________________________________________

Kami mengundang lulusan dari fakultas/jurusan Farmasi, MIPA, Bioteknologi, maupun Biologi untuk bergabung dalam pemagangan riset di Laboratorium Protein Terapetik dan Vaksin, Pusat Penelitian Bioteknologi, LIPI, dengan kualifikasi:
1. Lulusan S1/S2, atau yang sedang menempuh S2
2. Diutamakan memiliki pengalaman dalam teknik kultur sel mamalia, teknik-teknik dasar biologi molekuler (kloning, PCR, transformasi, isolasi DNA, western blot, dsb.),atau teknik purifikasi protein rekombinan
3. Rajin, semangat dalam belajar dan bekerja, pantang menyerah, mampu bekerja secara individu maupun dalam tim, outstanding, memiliki ketulusan dalam bekerja

Lamaran dapat ditujukan melalui email: Se_pt27@yahoo.com atas nama Endah dengan melampirkan surat lamaran dan CV. Pertanyaan lebih lanjut silakan via blog ini.

Pemagangan riset dapat dimulai pada bulan Februari 2013 (atau dapat menyesuaikan).

Pelatihan Teknik Dasar Kultur Sel Mamalia dan Aplikasi dalam Bidang Farmasi (2013)


Aplikasi kultur sel mamalia merupakan hal yang penting dalam penelitian-penelitian di bidang bioteknologi farmasi. Dewasa ini, sel mamalia banyak digunakan untuk pengujian aktivitas in vitro, penelusuran mekanisme molekuler, serta produksi protein rekombinan.

Teknik-teknik dasar kultur sel dan pengujian bahan/senyawa antikanker in vitro
Pengujian dasar yang umum terhadap skrining obat antikanker maupun senyawa kemopreventif adalah uji sitotoksisitas terhadap sel kanker. Dengan parameter IC50, dapat dilihat potensi toksik dari senyawa/bahan yang diujikan. Untuk pengamatan lebih lanjut mengenai kematian sel yang diakibatkan, apakah itu nekrosis atau apoptosis, perlu dilakukan pengamatan lebih lanjut. Metode sederhana yang sering digunakan adalah dengan pewarnaan sel yang menggunakan etidium bromida/akridin oranye (double staining). Penelusuran mekanisme molekuler yang terkait dengan regulasi ekspresi onkoprotein dapat dilakukan dengan aplikasi immunostaining dan flowcytometry.

Manajemen laboratorium kultur sel
Dalam pengembangan laboratorium kultur sel, maka manajemen laboratorium kultur sel adalah salah satu faktor penting yang harus dikuasai. Manajemen laboratorium kultur sel di antaranya meliputi: setting laboratorium kultur, perawatan dan kebersihan clean bench, CO2 chamber, dan water bath, penanganan limbah kultur dan sampah laboratorium, pencucian alat-alat gelas dan pipet, sterilisasi, inventarisasi dan pemeliharaan stok kultur sel, serta keamanan bekerja di laboratorium.

leaflet workshop kultur sel 2013

Pusat Penelitian di Perguruan Tinggi sebagai Pencetak Peneliti Muda


Pusat penelitian di Perguruan Tinggi (PT) merupakan wadah yang sangat berperan dalam mencetak ilmuwan muda sebelum mereka terjun pada institusi-institusi penelitian profesional. Bukan hanya masalah kepandaian yang menjadi pertimbangan utama, sikap/ tingkah laku (attitude) sebagai peneliti (junior) merupakan faktor yang lebih penting untuk dipelajari.

Faktor sikap ini menjadi penting karena seringkali menjadi masalah para fresh graduate, baik lulusan S1 maupun S2, yang belum  memiliki pengalaman kerja yang memadai. Lulusan baru biasanya masih idealis dan ‘sulit diatur’ karena idealismenya tersebut seolah memberikan ijin akan kebebasan dalam melakukan segala sesuatu. Yang terpikir saat melihat realita adalah ‘seharusnya begini dan begitu’, saya ingin ini dan itu. Terkadang tidak terbersit pertanyaan ‘apa yang diinginkan dari saya’? Karena kita direkrut untuk mengerjakan sesuatu dan untuk ‘tunduk’ pada atasan.

Beberapa sikap (fisik dan mental) yang dapat meningkatkan ‘kualitas’ kita sebegai staf peneliti junior diantaranya: Continue reading

dari Vaksin Polio Oral kembali ke Vaksin Polio Injeksi


Ada 2 macam vaksin polio yang digunakan untuk vaksinasi, yaitu vaksin polio oral (OPV) yang berisi virus polio yang dilemahkan (attenuated) dan vaksin polio terinaktivasi (IPV) yang diberikan melalui injeksi subkutan. IPV mengandung virus yang telah diinaktivasi dengan menggunakan formaldehid dan harganya 5 kali lebih mahal daripada OPV.

Di US, sejak tahun 2000, penggunaan OPV sudah dihentikan dan untuk vaksinasi kembali digunakan IPV. Ada apa gerangan? Ternyata OPV menyimpan resiko berbahaya yaitu dapat mengakibatkan VAPP-vaccination-associated polio paralysis atau polio paralisis yang muncul akibat divaksinasi. Resiko kejadian polio akibat OPV adalah 1 per 2,5 dosis yang didistribusikan. Angka kejadian VAPP bahkan mencapai 1 kasus per 520.000 anak yang mendapat vaksinasi pertamanya.

Demikianlah sehingga sejak tahun 2000, OPV sudah tidak digunakan di US. Meskipun demikian, di negara berkembang maupun di negara dunia ketiga, hingga satu dekade berlalu, kenyataannya OPV masih digunakan untuk vaksinasi. Beberapa kasus VAPP mungkin muncul dan selama ini dikenal dengan istilah ‘gagal polio’. Sayangnya belum ada konfirmasi dan penelitian ilmiah yang mengungkapkan kejadian pasca vaksinasi polio. Yang seringkali muncul hanyalah testimoni dan berita-berita di koran yang kemudian hilang ditepis begitu saja. Bagaimanapun juga kita patut curiga bahwa kejadian VAPP memang terjadi akibat vaksinasi itu sendiri, apalagi munculnya kasus paralisis, meningitis, bahkan kematian balita tepat terjadi setelah vaksinasi.

Sumber:

http://children.webmd.com/vaccines/polio-vaccine-ipv

http://www.brown.edu/Courses/Bio_160/Projects1999/polio/vac.html

Resiko berbahaya vaksin polio oral


Vaksin Polio Terinaktivasi (IPV)

IPV (Inactivated Polio Vaccine), atau disebut juga vaksin Salk, dikembangkan oleh Dr. Jonas Salk pada tahun 1952. Vaksin tersebut berupa suspensi jernih tak berwarna untuk injeksi subkutan. IPV mengandung 3 strain virus polio (tipe 1, 2, dan 3) yang ditumbuhkan pada kultur sel kera dan diinaktivasi menggunakan formaldehid. Uji klinik IPV dimulai pada tahun 1954 dan menunjukkan hasil yang mengejutkan dengan penurunan kasus kejadian polio pada kelompok uji. Ijin distribusi IPV segera disetujui oleh pemerintah US pada tahun 1955. Pada tahun 1987, versi baru dari IPV yang lebih poten diproduksi dengan menggunakan kultur sel manusia dan memiliki kandungan antigenik yang lebih tinggi daripada vaksin aslinya.

Keuntungan: virusnya tidak hidup sehingga lebih mudah penanganannya daripada vaksin polio oral (OPV); tidak ada resiko polio akibat vaksinasi (vaccine-associated polio paralysis, VAPP); imunisasi memunculkan imunitas pada 3 tipe virus polio.

Kerugian: IPV hanya menginduksi imunitas yang rendah pada saluran pencernaan; harganya lebih mahal daripada OPV; perlu petugas khusus untuk penyuntikannya.

Vaksin Polio Oral (OPV)

Vaksin polio oral (OPV) dikembangkan pada tahun 1958 oleh Dr. Albert Sabin. Sabin melemahkan virus polio dengan mensubkultur virus pada sel epitel ginjal kera. Vaksin polio oral yang umum dipakai adalah trivalent, yang berarti mengandung 3 strain virus polio. OPV trivalent menginduksi sistem kekebalan jangka panjang pada saluran pencernaan dari berbagai bentuk virus polio.

Kerugian: kerugian yang paling serius dari OPV adalah resiko polio paralisis terkait dengan vaksinasi yang diberikan. Kenyataannya, pada vaksin yang mengandung virus yang dilemahkan, ada bahaya akan perubahan status dari virus yang dilemahkan menjadi virus yang virulen. Diperkirakan 1 kasus pada tiap 2,5 juta dosis OPV yang didistribusikan mengakibatkan VAPP. Selain itu, resiko tersebut meningkat secara signifikan pada dosis pertama OPV, yaitu mencapai 1 kasus per 790.000 dosis yang diaplikasikan. Bahkan resiko tersebut meningkat hingga 1 kasus per 520.000 anak yang divaksinasi OPV pertama kali.

Sumber: http://www.brown.edu/Courses/Bio_160/Projects1999/polio/vac.html

Because I am a Pharmacist


Baru-baru ini saya menghadiri seminar tentang ‘translational research on cancer chemoprevention’ di Puspiptek, Serpong. Saya memiliki latar belakang penelitian mengenai kemoprevensi kanker memang. Saat itu saya mengikuti presentasi dari Dr. Raymond dari Dexa Medica Lab yang memaparkan penelitian kemoprevensi tentang fraksi aktif dari Phaleria macrocarpa, atau yang dikenal dengan Mahkota Dewa. Setelah melalui penelitian bertahun-tahun, kurang lebihnya 7 tahun, akhirnya Dexa merilis obat kanker yang berisi fraksi aktif, bernama Phalecarp.

Deg,..bergetar rasanya jantung ini. Akankah semudah itu jika kita punya dana yang cukup? Terutama untuk uji klinis. Selama ini penelitian ekstrak-ekstrak maupun fraksi yang potensial banyak yang  mandeg setelah sekedar uji in vitro, meskipun dengan penulusan mekanisme molekuler, atau uji anti-karsinogenesis in vivo.

Apakah belum ada yang menguji mahkota dewa? Banyak! Tetapi sampai dimanakah pemanfaatannya? Continue reading

Transfeksi sel mamalia dengan DNA plasmid


Metode transfeksi

Jika pengenalan plasmid DNA asing ke dalam bakteri lazim dikenal sebagai transformasi, maka pengenalan DNA asing pada sel mamalia disebut transfeksi. Ada beberapa metode transfeksi menggunakan bahan kimia yang sering dilakukan. Di antaranya dengan menggunakan kalsium fosfat, sediaan liposom maupun polimer.

Metode kalsium fosfat merupakan metode yang sedeharna dan murah. Kalsium merupakan salah satu ion yang memiliki kanal khusus (Ca2+ channel) pada membran sel. Kalsium fosfat akan berikatan dengan DNA dan membawanya masuk melalui kanal kalsium. Continue reading

Virus Like Particle (VLP): vaksin generasi baru


Sebagian besar orang kurang peduli dengan vaksin yang digunakan untuk vaksinasi/imunisasi. Apakah vaksin tersebut mengandung virus yang dilemahkan, bagian dari sel bakteri, mengandung pengawet yang berbahaya seperti thimerosal, mengandung sisa-sisa sel fetus yang diaborsi, maupun mengandung sisa-sisa sel ginjal kera. Sudah saatnya untuk kita lebih peduli terhadap komposisi vaksin, terlebih jika vaksin itu akan digunakan untuk imunisasi anak-anak/ bayi-bayi yang merupakan generasi penerus bangsa.

Vaksin untuk pencegahan penyakit yang disebabkan virus, seperti halnya polio, sampai saat ini mengandung virus yang dilemahkan. Definisi virus yang telah dilemahkan selama ini merupakan virus asli yang sudah tidak mampu lagi menyebabkan penyakit karena sifatnya sudah lemah (impoten). Namun, bagaimanapun juga, virus ini tetaplah virus yang mengandung materi genetik, entah itu DNA maupun RNA yang sewaktu-waktu dapat menginfeksi pada tubuh dengan daya tahan lemah, dan menimbulkan penyakit. Entah kita mempercayai kebenarannya atau tidak, tetapi beberapa kasus yang terjadi, anak yang diimunisasi polio justru mengidap polio, atau juga meningitis. Dengan demikian, seharusnya kita mengambil kesimpulan bahwa: vaksin yang mengandung virus yang meski telah dilemahkan adalah tetap berbahaya. Continue reading

Ekspresi protein rekombinan pada sel manusia


Peneliti-peneliti di dunia ini semakin menunjukkan eksistensinya ketika penelitian di bidang protein rekombinan semakin berkembang. Pada zaman dahulu, penyakit yang diakibatkan defisiensi suatu protein di dalam tubuh, hampir tidak bisa diobati, selain dengan transfusi. Kemudian menyusul dengan isolasi protein dari hasil eksresi manusia, semisal erythropoietin (EPO) yang diisolasi dari urin untuk pengobatan anemia, atau isolasi dari organ hewan seperti babi, semisal insulin yang dulunya diekstraksi dari pankreas babi untuk terapi diabetes.

Kemajuan penelitian di bidang bioteknologi memungkinkan diproduksinya protein rekombinan dari beberapa inang/sistem ekspresi, termasuk di antaranya bakteri, sel ragi/yeast, sel hewan (mamalia), maupun sel manusia. Protein rekombinan hasil bioteknologi juga telah digunakan untuk terapi pasien di rumah sakit, sebagaimana dua protein yang telah disebut di awal tadi, yaitu EPO dan insulin. Protein rekombinan ini tidak 100% identik dengan protein aslinya, tetapi berbagai modifikasi juga dilakukan untuk mendapatkan protein yang memiliki stabilitas tinggi dengan tetap mempertahankan efikasinya. Continue reading