The Perfect Teacher, The Perfect Researcher


Setelah 5 tahun berselang, akhirnya saya kembali lagi ke NAIST untuk belajar sebagai penerima beasiswa Monbusho (MEXT). Saya akan menjalani masa research student saya dan program S3 selama sekitar 4 tahun keseluruhannya, insyaAllah. Kali ini saya belajar di lab yang berbeda. Sensei saya yang dulu sudah hampir pensiun.

Sejujurnya, saya banyak terpengaruh dengan gaya  Kawaichi sensei, bagaimana beliau membangun labnya, mengaturnya, dan juga cara beliau dalam mengajarkan sesuatu. Banyak sekali pesan-pesannya di sela-sela kesibukan mengajarkan teknik-teknik eksperimen kepada saya.

Di laboratorium yang baru, saya banyak membandingkan dengan laboratorium di Kawaichi sensei dan laboratorium saya di LIPI. Laboratorium ini agak kurang terorganisir. Mahasiswanya pintar-pintar dan sangat rajin bekerja. Tetapi dalam bekerja, seringkali mereka mempraktekkan metode modifikasi mereka sendiri yang cepat dan ringkas.

Itulah yang membuat saya kemudian berpikir. Memang, jika kita ingin bekerja dengan cepat dan mudah, kita bisa melakukan itu. Tetapi, ketika kita adalah seorang dosen, atau seorang peneliti, maka seharusnya kita mempraktekkan cara yang terbaik agar bisa meyakinkan hasil yang kita dapat. Juga agar bisa mengajarkan kepada orang lain, cara yang benar dengan penjelasan yang rasional. Jadi, meskipun kali ini saya adalah student, tetapi saya melihat bahwa saya juga peneliti dan pengajar. Jadi saya harus belajar dengan sebaik-baiknya.

“I don’t like kit. Kit makes people fool,” kata Kawaichi sensei. Sensei yang sangat menyukai hal-hal teoritis dan harus melakukan sesuatu dengan mendetail. Misalnya, untuk PCR saja, hingga sekarang beliau tidak memakai kit. Beliau membuat sendiri Taq polimerase-nya. Untuk purifikasi DNA dari gel saja, beliau menggunakan glass beads dan menyiapkan sendiri larutan-larutan yang diperlukan. bukan kit. Beliau juga mengajari teknik lain untuk purifikasi DNA dari gel dengan menggunakan whatman paper.

Kemudian, beliau menanamkan pada saya untuk tidak percaya begitu saja dengan larutan-larutan umum (yang dibuat orang lain) dan pipet-pipet. Kita harus memastikan bahwa semuanya dilakukan dengan benar. Atau kalau tidak, kita tidak akan tahu apa penyebabnya ketika kita mendapatkan hasil yang tidak sesuai dengan harapan.

“The soul of samurai is his sword, the soul of molecular biologist is his pipette!” pesan yang tidak akan saya lupakan. Mudah-mudahan kelak ketika saya kembali ke LIPI, saya juga punya 1 set pipet khusus untuk saya sendiri.

“You must work harder, and harder, that is experiment.” kata-katanya dalam kesempatan yang lain. Orang jepang memang rajin bekerja. Tapi memang terkadang tidak masuk akal karena mereka lebih banyak menghabiskan waktu di lab daripada di rumah.

Ketika beliau mengajarkan saya, setiap pertanyaan beliau jawab. Saya terkadang tidak pernah menduga, bahwa hal yang sederhana juga tersedia jawabannya dari Kawaichi Sensei.

Ketika beliau berkesempatan untuk datang ke LIPI untuk acara seminar dan workshop, beliau mempersiapkan betul bahan-bahan yang akan dipresentasikan, juga bahan untuk praktikum. Kami banyak mendapat “gift” berupa chamber SDS electrophoresis, gel caster, blotting cassettes, dll. Beliau menyiapkan hand out praktikum yang sangat detail. Pesannya di hand out tersebut adalah, jika kita tahu cara yang benar dalam melakukan eksperimen, kita bisa melakukan banyak kegiatan dengan dana yang terbatas. Ya, dengan membuat larutan sendiri dan tidak bergantung pada kit. Dengan menerapkan metode-metode yang sederhana, seperti dalam hal mencetak film.

Orang-orang lama di zaman dulu bahkan menyiapkan enzim restriksi mereka sendiri. woooww…..tapi sekarang kita sudah jauh lebih mudah. Saya rasa, eksperimen-eksperimen yang dilakukan di sini, sebagian besar juga dapat dilakukan di LIPI. Memang kita perlu kerja yang lebih keras dengan banyak keterbatasan. Tapi saya menyukai pekerjaan saya dan berusaha menikmatinya.

Teringat ketika pertama kali saya menyiapkan segala sesuatunya untuk memulai pekerjaan kultur sel. Saya membuat list, dan saya rasa saya tidak bisa melakukannya dengan lebih baik ketika saya tidak belajar dengan sungguh-sungguh di NAIST. Saya bahkan mengambil foto setiap sudut ruang kultur sel. Bagaimana sistem di dalam ruang tersebut berjalan. Memperhatikan inkubator CO2 dengan water jacket-nya, bagaimana mengisi air, bagaimana mensterilkan pipet kaca, daaaaan lain-lain..

Saya mendapatkan sel pertama, kedua, ketiga, dan keempat saya dari Kawaichi Sensei. HEK, CHO-K1, T47D dan MCF-7. Saya banyak berkonsultasi jika ada masalah yang terjadi di laboratorium. Saya juga bertanya pada teman saya di sana tentang detail medium dan serum yang digunakan. Dan saya bertanya tentang apaaa sajaa…

Teringat ketika saya berusaha menumbuhkan sel untuk pertama kalinya. Saya meminjam lab dan alat dari satu gedung ke gedung yang lain. Kemudian suatu saat, saya bahkan membawa sel naik motor. Jadi, saya menyiapkan media untuk thawing sel, kemudian saya naik motor mengambil sel beku. Kemudian saya berlari dan naik motor lagi, dengan terburu-buru menuju ke ruang kultur untuk thawing sel. Kemudian saya mengkultur sel di lab tersebut. Untuk melihat selnya, saya perlu naik ke lantai 2 dan membawa selnya di dalam kotak. Kemudian untuk membuat stok cryo, saya harus kembali membawa selnya naik motor ke tempat lain. Woooowwww, benar-benar sesuatu. Tapi tanpa hal ini dilakukan, mungkin tidak akan berhasil. Pikiran kita yang memberikan semangat bahwa kita bisa melakukannya dengan berserah diri pada Allah, itulah memberikan kekuatan pada kita..untuk berlari, untuk bekerja, untuk mencoba hal-hal yang tidak masul akal.

Alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar, tidak ada kontaminasi sehingga bisa membuat stok sel, dan eksperimen bisa dilanjutkan. Hal yang paling ekstrim adalah ketika saya membawa sel di dalam 96 well plate, dua buah, naik motor, sendirian, ketika sedang hujan!!!!!!!!! Dan hari itu saya beberapa kali bolak-balik karena ada beberapa plate yang harus saya baca. Dapat membayangkannya?

Terkadang memang orang berpikir, sehingga menjadikan enggan dan sungkan untuk bertanya. Tapi rasa ingin tahu dan semangat untuk maju akan menghapuskan rasa itu. Dan terakhir saya belajar dari sensei, bahwa tidak perlu merasa sungkan untuk bertanya atau meminta pada orang lain. Waktu itu saya berkata:”sensei, saya sangat beruntung karena sensei sangat baik. Waktu pertama kali saya meminta plasmid pcDNA3, saya merasa ragu, tetapi saya mencobanya untuk memintanya pada sensei. tapi ternyata sensei sangat baik dan memberikannya pada saya.”

Kemudian sensei menjawab:”Kamu tidak perlu merasa sungkan untuk meminta pada siapa saja di seluruh dunia ini. Terkadang memang kamu ditolak, tapi kamu bisa mencoba lagi.”

Semangat ini, ya, itu adalah semangat seseorang yang selalu menginginkan perubahan dan perbaikan untuk lebih maju. Tidak dibatasi dengan bayangan kekhawatiran dan ketakutan. Saya akan berusaha tetap menjadi orang yang optimis, meskipun mungkin realitanya tidak akan semudah itu dalam menjalaninya. Terutama dengan teman kolega satu institusi, yang mungkin akan berpikir kita begini dan begitu………Tapi saya memiliki cita-cita yang baik, saya ingin melakukan sesuatu dalam lingkup yang lebih besar. Dan mungkin itu tidak akan pernah bisa dilihat orang lain dan akan sangat susah menjelaskannya. Tapi biarlah Allah yang tahu dan menyimpan pahala untuk saya. insyaAllah.

Itulah Kawaichi sensei, role model dalam kehidupan penelitian saya. Saya sangat beruntung bisa mengenal dan belajar banyak hal dari beliau.

Advertisements

2 Comments

  1. -yoNa-

    Semangat mbak Sep.. aku baru belajar kultur sel mamalia di sini. Nyari cara makai hematositometer. Eh, ketemu lagi sama blog ini hehe.. Sayang buku worskshop kultur sel tahun lalu gak dibawa :-s

  2. Semangat, berdoa dan terus berusaha YoNa 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: