Pemanfaatan Sel Mamalia untuk Penemuan Obat pada Terapi Terarah (Targeted Therapy)


Pemanfaatan sel mamalia dalam bidang bioteknologi telah berkembang dengan pesat. Kultur sel mamalia yang digunakan saat ini, baik kultur sel primer, kultur sekunder maupun lini sel sangat beragam jenis dan jumlahnya. Pemanfaatan kultur sel mamalia sangat luas, di antaranya meliputi studi mekanisme penyakit pada aras molekuler, penelusuran mekanisme aksi obat, ekspresi dan produksi protein rekombinan dan antibodi monoklonal serta penentuan regimen terapi yang tepat bagi pasien di rumah sakit.

Di dalam bidang farmasi, khususnya dalam penemuan obat, peran kultur sel mamalia sangatlah penting. Sel mamalia banyak digunakan untuk pengembangan teknik-teknik pengujian secara in vitro.

Sebut saja penelitian antikanker. Pengujian umum yang dilakukan untuk mengetahui potensi suatu senyawa atau bahan adalah uji sitotoksisitas pada sel kanker. Parameter IC50 digunakan sebagai parameter untuk melihat potensi kandidat antikanker tersebut.

Untuk menguji suatu kandidat antikanker, parameter IC50 hanyalah data awal saja. Parameter lain yang umum diamati adalah jenis kematian sel yang diakibatkan oleh kandidat antikanker. Apakah nekrosis atau apoptosis.

Kematian sel yang diharapkan dari perlakuan obat antikanker adalah apoptosis. Apoptosis adalah kematian sel yang terprogram, atau secara mudahnya adalah program bunuh diri sel. Ketika sel mengalami suatu kerusakan, secara sadar sel berusaha untuk menghancurkan dirinya tanpa menyebabkan perubahan homoestatis lingkungannya. Sel akan membentuk badan-badan apoptosis yang kemudian akan ditelan oleh sel fagosit.

Kematian sel secara nekrosis ditandai dengan lisis sel. Membran sel rusak dan mengeluarkan seluruh isi sel. Kematian secara nekrosis tidak diharapkan pada perlakuan obat antikanker. Pada saat terjadi nekrosis, DNA akan tumpah ruah di lingkungan ekstraseluler dan hal ini mengakibatkan kondisi yang sangat merugikan pasien yang menderita kanker. DNA akan dimetabolisme menjadi asam urat dan akan mengakibatkan rasa sakit.

Obat kemoterapi saat ini masih banyak menyebabkan nekrosis sel. Meskipun sebelum menjalani kemoterapi, pasien telah mendapatkan terapi anti-asam urat (pada umumnya allopurinol), pasien tetap merasakan rasa sakit akibat kemoterapi.

Berbagai dampak negatif yang merugikan pasien akibat kemoterapi telah diketahui. Oleh karena itu, dalam pengembangan kandidat obat antikanker diperlukan penelitian yang panjang dan mendalam untuk mendapatkan kandidat yang tepat. Kandidat yang memiliki efektivitas dan selektivitas yang tinggi serta minimal efek samping. Dalam hal ini, sel mamalia, khususnya sel kanker, memiliki peran penting untuk investigasi mekanisme molekuler kandidat antikanker.

Penelitian-penelitian kandidat obat yang lain juga banyak melibatkan sel mamalia. Saat ini, aksi obat secara molekuler sangat penting diketahui untuk pengembangan obat pada terapi terarah (targeted therapy). Selektivitas obat pada sel normal akan meningkatkan efektivitas terapi dan meminimalkan efek samping yang merugikan pasien (XePtI/dari berbagai sumber).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: