Pusat Penelitian di Perguruan Tinggi sebagai Pencetak Peneliti Muda


Pusat penelitian di Perguruan Tinggi (PT) merupakan wadah yang sangat berperan dalam mencetak ilmuwan muda sebelum mereka terjun pada institusi-institusi penelitian profesional. Bukan hanya masalah kepandaian yang menjadi pertimbangan utama, sikap/ tingkah laku (attitude) sebagai peneliti (junior) merupakan faktor yang lebih penting untuk dipelajari.

Faktor sikap ini menjadi penting karena seringkali menjadi masalah para fresh graduate, baik lulusan S1 maupun S2, yang belum  memiliki pengalaman kerja yang memadai. Lulusan baru biasanya masih idealis dan ‘sulit diatur’ karena idealismenya tersebut seolah memberikan ijin akan kebebasan dalam melakukan segala sesuatu. Yang terpikir saat melihat realita adalah ‘seharusnya begini dan begitu’, saya ingin ini dan itu. Terkadang tidak terbersit pertanyaan ‘apa yang diinginkan dari saya’? Karena kita direkrut untuk mengerjakan sesuatu dan untuk ‘tunduk’ pada atasan.

Beberapa sikap (fisik dan mental) yang dapat meningkatkan ‘kualitas’ kita sebegai staf peneliti junior diantaranya:

Keingintahuan dan kreativitas

Rasa ingin tahu membuat kita bertanya, dan kemudian mencari jawabannya. Rasa ingin tahu adalah salah satu sumber dari munculnya ide-ide cemerlang. Kreativitas kita akan mendukung kita dalam pencapaian ide-ide tersebut.

Bekerja secara individu dan dalam tim

Setiap peneliti pasti memeliki ego masing-masing. Hal ini membuat suatu keharusan bagi peneliti untuk dapat bekerja secara individu. Peneliti harus rajin dan berusaha untuk tidak bergantung pada orang lain. Sebisa mungkin kita mengetahui dan melakukan sendiri apa yang kita kerjakan dan menjadi tanggung jawab kita. Kebiasaan titip menitip kerjaan dan bekerja beramai-ramai dalam satu eksperimen kecil bukanlah kebiasaan yang baik bagi para peneliti junior.

Bagaimanapun juga kita adalah bagian dari sebuah tim. Kita juga tidak bisa melakukan segala sesuatunya sendiri. Oleh karena itu, kita perlu bekerja sama dalam tim untuk mendapatkan suatu pencapaian yang lebih tinggi. Bekerja sama bukan berarti bekerja bersama-sama atau beramai-ramai. Dalam hal ini, setiap individu tetap memegang peran dan tanggung jawab masing-masing untuk tujuan bersama. Yang sama adalah tujuannya, tetapi tanggung jawab dan pekerjaannya tidak harus sama. Gesekan dengan peneliti lain perlu dihindari untuk mencegah timbulnya konflik.

Semangat dan kesungguhan

Semangat tentu saja sangat diperlukan dalam bekerja. Apalagi jika kita mengalami suatu kegagalan. Dengan semangat tinggi dan kesungguhan, kita akan pantang menyerah dalam mencapai tujuan. Kesungguhan juga menentukan kualitas pekerjaan kita.

Ketelatenan dan ketelitian

Seorang peneliti harus teliti dalam bekerja. Slowly but sure. Lebih baik melakukan sesuatu dengan pelan, tahap demi tahap dengan teliti, daripada bekerja terburu-buru dan ceroboh. Ketelatenan sangat diperlukan agar kita tidak mudah jenuh dikala kita melakukan eksperimen yang monoton.

Kejujuran

Peneliti boleh salah, tetapi peneliti tidak boleh berbohong. Manipulasi data sangat tidak dibenarkan dalam etika penelitian.

Menghargai ilmu dan pengalaman

Ilmu dan pengalaman tidak diperoleh dengan mudah. Untuk dapat memperoleh ilmu kita harus belajar dengan kesungguhan hati. Dengan demikian kita juga harus menghargai seseorang yang memiliki ilmu atau pengalaman dalam sesuatu hal. Apalagi jika kita belajar dan mendapat bantuan dari orang tersebut, sudah sewajarnya kita berterima kasih dan menghargai orang itu. Meskipun seseorang itu adalah lebih muda atau orang yang tidak kita sukai sekalipun. Mengajari seseorang bukanlah hal yang mudah.

Menghargai atasan

Sebagai seorang peneliti, sudah sewajarnya jika kita memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Dengan berbekal pada pengalaman kita pribadi, juga teori-teori yang telah kita dapatkan selama belajar, membentuk idealisme dan cita-cita kita. Meskipun demikian, di tempat yang baru kita harus dapat belajar untuk ‘tut wuri handayani’ untuk dapat mendukung apa yang sedang dikerjakan oleh atasan kita. Akan ada waktunya sendiri bagi untuk bisa mengembangkan sesuatu yang kita cita-citakan. Kita harus menunggu saat yang tepat. Dengan menyamakan visi dan misi dengan atasan pun, jika kita adalah seorang peneliti yang baik, kita juga tetap bisa ‘melakukan sesuatu’.

Visioner

Suatu saat ketika kita menjadi peneliti senior, itulah waktunya bagi kita untuk memimpin dan membimbing. Waktunya menerapkan idealisme dan cita-cita kita untuk kemajuan bangsa ini. Hanya peneliti junior yang baik yang akan dapat menjadi peneliti senior yang baik. Hanya peneliti junior yang memahami setiap tahapan untuk berproses yang akan menjadi matang dan memetik buahnya. Jika di saat kita menjadi peneliti junior kita sudah semaunya sendiri, bagaimana kita bisa menjadi seorang pemimpin yang baik?

Pada PT yang mendeklarasikan dirinya sebagai research university seyogyanya mendidik para mahasiswanya untuk memiliki sikap peneliti yang baik. Tidak hanya kemampuan teknik penelitian maupun kemampuan menulis ilmiah, faktor sikap ini justru akan menjadi faktor penentu profesionalisme di instansi penelitian yang sesungguhnya.

Semoga bermanfaat!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: