Virus Like Particle (VLP): vaksin generasi baru


Sebagian besar orang kurang peduli dengan vaksin yang digunakan untuk vaksinasi/imunisasi. Apakah vaksin tersebut mengandung virus yang dilemahkan, bagian dari sel bakteri, mengandung pengawet yang berbahaya seperti thimerosal, mengandung sisa-sisa sel fetus yang diaborsi, maupun mengandung sisa-sisa sel ginjal kera. Sudah saatnya untuk kita lebih peduli terhadap komposisi vaksin, terlebih jika vaksin itu akan digunakan untuk imunisasi anak-anak/ bayi-bayi yang merupakan generasi penerus bangsa.

Vaksin untuk pencegahan penyakit yang disebabkan virus, seperti halnya polio, sampai saat ini mengandung virus yang dilemahkan. Definisi virus yang telah dilemahkan selama ini merupakan virus asli yang sudah tidak mampu lagi menyebabkan penyakit karena sifatnya sudah lemah (impoten). Namun, bagaimanapun juga, virus ini tetaplah virus yang mengandung materi genetik, entah itu DNA maupun RNA yang sewaktu-waktu dapat menginfeksi pada tubuh dengan daya tahan lemah, dan menimbulkan penyakit. Entah kita mempercayai kebenarannya atau tidak, tetapi beberapa kasus yang terjadi, anak yang diimunisasi polio justru mengidap polio, atau juga meningitis. Dengan demikian, seharusnya kita mengambil kesimpulan bahwa: vaksin yang mengandung virus yang meski telah dilemahkan adalah tetap berbahaya.

Selanjutnya, ada vaksin yang berisi bagian dari sel bakteri yang telah dirusak. Berbeda dengan virus, bakteri yang telah mati tidak akan menginfeksi tubuh dan cenderung lebih aman. Namun, untuk vaksin yang satu ini, saya sendiri berpendapat bahwa: untuk penyakit yang ditimbulkan bakteri, sudah ada terapi dengan antibiotik. Oleh karena itu, mengapa kita dengan sengaja memasukkan sisa kuman penyakit ke dalam tubuh yang sehat (apalagi bayi)?

Menyikapi penggunaan antibiotik yang seringkali tidak rasional hal ini haruslah diluruskan. Alih-alih dapat menyembuhkan penyakit, yang ada justru munculnya resistensi terhadap antibiotik sehingga penyakit sesungguhnya perlu perawatan dengan antibiotik yang sama akan lebih susah disembuhkan. Selain itu, hal yang perlu diingat adalah terapi dengan antibiotik juga akan menurunkan sistem kekebalan kita sehingga tubuh akan lebih mudah sakit.

Untuk pencegahan penyakit akibat virus yang berbahaya, seperti halnya kanker leher rahim (serviks) yang merupakan pembunuh utama wanita di Indonesia, telah dikembangkan vaksin yang mengandung virus like particle (VLP). VLP ini lebih aman karena tidak mengandung materi genetik sehingga tidak akan menginfeksi ke dalam sel.

VLP yang digunakan untuk vaksinasi pencegahan kanker serviks mengandung protein mayoritas pembentuk kapsid/virion HPV yaitu L1. Protein L1 ini dapat membentuk konformasi kapsid meskipun tidak ada protein lain sehingga protein rekombinan L1 dapat diproduksi tanpa menggunakan DNA virus.

Meskipun vaksin VLP lebih aman, tetapi kita harus tetap melihat bagaimana komposisi dari vaksin tersebut. Semisal pengawet maupun adjuvan yang digunakan. Untuk mendapatkan reaksi imunogenik yang tinggi, vaksin memang biasanya ditambah dengan adjuvan. Hal ini dapat berbahaya ketika reaksi imunogenik yang dihasilkan ternyata terlalu tinggi sehingga tidak dapat diatasi oleh tubuh. Jika hal tersebut terjadi, maka akan terjadi syok anafilaktik yang dapat mengakibatkan kematian. Telah dilaporkan adanya kasus meninggalnya seorang anak 14 tahun setelah vaksinasi, meskipun vaksin tersebut berbahan utama VLP.

Kita tidak boleh main-main dengan vaksin. Kondisi tubuh harus benar-benar diperhatikan ketika kita memutuskan untuk melakukan vaksinasi. Dengan demikian, hal yang terbaik adalah mengupayakan pencegahan dengan mengubahpola/gaya hidup kita menuju gaya hidup yang lebih sehat. Makan makanan sehat bergizi, peduli pada kebersihan lingkungan, memperhatikan higienisitas, serta tidak bergaya hidup bebas (merokok, mabuk-mabukan, seks pranikah dan berganti-ganti pasangan).

Advertisements

6 Comments

  1. setuju banged xep.,.,.so mulailah hidup sehat dari sekarang. Hindari makanan junkfood ๐Ÿ™‚ dan bergaya hidup bebas ๐Ÿ™‚

  2. diwi diu

    so…bgmn dgn baby-mu? imunisasi gak jeng?

    • ga imunisasi insyaAllah sehat selalu, amin

  3. rara

    trims ci’ fem… hmmm tyata ngeri juga n sbg org awan tentunya kita kadang hanya manut2 saja. yg plg kubenci n ku sesali adl pil kb. sdh tau mjd efek utama kanker payudara knp truz dproduksi n dgunakan. bhkan tnga medis tdk bgtu jelas mberikan ktrangan. bhkn ktika klrg ada yg skt sprt itu, blm tentu sbg klrg pasien dberi tau bgm pykt, jenisny, penanganannya, prawatan dll. kshtn n transparasi kshtn msh amat sangat buruk,trtama u kaum lemah. PENYINARAN SEL CANCER AJA HARUS ANTRI LBH DARI 3 BLN.

    • obat pada hakikatnya adalah racun, dosislah yang dapat membuat obat menjadi racun atau obat, jadi harus selalu hati-hati..

  4. @rara: pil KB itu berisi hormon estrogen/progesteron karena memang kerjanya mengatur siklus haid. Untuk wanita yang beresiko, misal ada gangguan hormonal, sejarah keluarga ada yang terkena kanker, pernah ditemukan miom, dsb, sebaiknya tidak memilih KB dengan pil maupun suntik. Di era informasi ini kita harus selalu aktif bertanya, apalagi hal itu menyangkut masalah kesehatan. Tapi harus selalu diingat untuk dapat menyaring dan menyerap informasi yang diterima, tidak asal percaya saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: